fbpx

Kerajinan Kain Perca : Terus Bertahan Meski Ngos-ngosan

kain-perca-insert Kerajinan Kain Perca : Terus Bertahan Meski Ngos-ngosanEma Nur Arifah – detikBandung

Bandung – Ekonomi Indonesia yang gonjang-ganjing berimbas pada industri makro maupun mikro. Cordina (43) yang merintis Quiltmania sejak 17 tahun yang lalu berjuang untuk terus bertahan meski dalam keadaan terjepit.

“Kita berusaha bertahan meski ngos-ngosan,” ujar istri dari Dowal Simanungkalit (44) ini.

Diakui Dina, dari sisi kuantitas, produktivitas tetap stabil namun biaya operasioal yang harus ditanggung membengkak. Bahkan ada bahan baku yang naiknya sampai 50 persen.

Hal ini disebabkan produk kain dari dua perusahaan yang menjadi langganannya tiba-tiba menghilang dari peredaran.  Dina pun terpaksa menggunakan kain impor sejak empat tahun yang lalu.

Harga kain impor yang lebih mahal membuat Dina harus mengeluarkan ongkos produksi yang lebih banyak. Walaupun secara kualitas kain impor lebih baik dari kain lokal. “Meskipun kita menaikan harga tapi tidak sebesar naiknya biaya operasional,” ujar lulusan Fakultas Hukum Unpad ini.

Diakui Dina dia membutuhkan modal untuk membantu usahanya tetap berjalan lancar. Namun sampai saat ini Dina enggan untuk meminjam pada bank karena ribetnya birokrasi yang harus dilalui. Ketidakpercayaannya pada pemerintah pun membuat dia enggan meminta bantuan dana.

“Sampai saat ini kita masih menggunakan biaya sendiri,” ujar Dina.

Harapan Dina, dirinya bisa berbagi ilmu tentang kerajinan kain perca kepada masyarakat. Mengingat pasar produk kain perca yang menjanjikan menurut Dina usaha ini bisa menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak.

Melalui Quiltmania, dia ingin memberdayakan masyarakat khususnya masyarakat sekitar tempat workshopnya di Komplek Cipageran Asri.

“Saya ingin memperlihatkan pada pemerintah kalau kita punya potensi,” ujar Dina yang juga menjadi pengajar di Kriya Tekstil ITB ini.
(ema/ern)

 

Sumber dikutip dari : http://bandung.detik.com/read/2009/04/20/104623/1118039/681/terus-bertahan-meski-ngos-ngosan

Comments are closed.