Baju lebaran anak..

Baju Lebaran

Peluang Usaha Jual Pakaian Lebaran Khusus Anak

Peluang Usaha Jual Pakaian Lebaran Khusus Anak

Busana Anak Up To Date

Busana Anak Up To Date

Pusat dan Grosir Baju Anak, Pakaian anak, Busana Anak Indonesia

Pusat dan Grosir Baju Anak, Pakaian anak, Busana Anak Indonesia

Eh, ternyata si perca bisa menghasilkan duit jutaan rupiah

kain_perca_kontan Eh, ternyata si perca bisa menghasilkan duit jutaan rupiahSisa potongan kain yang dikenal dengan kain perca ternyata bisa disulap menjadi produk yang bernilai ekonomis, seperti bed cover, seprai, gorden, dan banyak lagi. Namun untuk mencapai sukses di bisnis produk kain perca ini perlu kreativitas yang tiada henti.

Dengan bermodal kreativitas, potongan kain sisa jahitan bisa diolah menjadi aneka produk menarik yang menguntungkan. Kain yang akrab disebut kain perca itu bisa disulap menjadi seprai, bed cover, tas kain, selimut, gorden, dan banyak lagi.

Salah satu pemilik tangan kreatif yang mengolah kain perca itu adalah Metavia, pemilik Fafa Quilts & Craft di Jakarta Barat. Metavia membuat kerajinan kain perca itu dengan menggunakan teknik quilting atau teknik menyambung bagian kain yang terpisah.

Hingga kini, ibu dari lima anak itu memproduksi aneka produk, seperti bed cover, selimut, karpet, gorden, tas kain, handuk hingga celemek, dan taplak meja. Metavia mengolah kain perca karena hobi yang sudah ia lakukan sejak 1994 silam. “Saya suka membuat perlengkapan rumah tangga dengan modifikasi quilting,” katanya.

Agar menguasai teknik quilting secara fasih, Metavia belajar otodidak dengan mengandalkan guru berupa buku literatur. Dia rutin membaca buku tentang quilting ala Jepang hingga Eropa. Setelah bisa, Metavia mengawali membuat produk dengan membuat perlengkapan kamar tidur dari kain perca. “Saya sempat berhenti pada 1998 karena anak-anak masih kecil,” terang Metavia.

Setelah sang anak memasuki usia sekolah, Metavia kembali menekuni kerajinan kain perca pada 2004. Namun saat dia memulai lagi bisnis ini, pesaing sudah menjamur. Namun Metavia tidak putus asa. Bagi dia, kompetisi itu cambuk semangat untuk terus membuat produk yang lebih menarik.

Nah, untuk memenangkan persaingan, Metavia tidak mau hanya mengandalkan kain perca. Ia juga membeli kain baru sebagai bahan pendukung produknya. “Penambahan kain untuk memberi warna lain dalam teknik quilting,” jelasnya.

Setiap karya Metavia dijual dengan harga beragam, tergantung model dan tingkat kesulitan pembuatannya. Seperti bed cover berbahan kain perca katun dia jual mulai Rp 1 juta sampai Rp 4 juta per set. Adapun sarung bantal, Metavia menjual mulai dari harga Rp 70.000 hingga Rp 100.000 per potong.

Dengan bantuan enam karyawan, kini Metavia mampu memproduksi 1.000 potong sarung bantal dan ratusan produk kerajinan lain seperti bed cover, tas kain, atau gorden. Dari semua jenis produksi itu, dalam sebulan, setidaknya Metavia mampu meraup omzet hingga sebesar Rp 300 juta.

Namun demikian, Metavia mengaku kesulitan dalam mengembangkan bisnisnya. Menurut Metavia, saat ini sangat sulit mencari karyawan yang sudah terampik dan menguasai teknik quilting. Karena itu, “Kalau pesanan lagi banyak, saya limpahkan ke kelompok penjahit di Cianjur,” ujarnya.

Selain Metavia, mengolah kain perca juga dilakukan Maria Risnawati, pemilik CV Sinar Kreatif di Surabaya. Maria mengolah kain perca menjadi bed cover, selimut dan tas kain. Ia tertarik mengolah kain perca karena bisa membuat produk yang beragam dan unik. “Pilihan banyak membuat konsumen tidak bosan,” kata Maria yang buka usaha itu sejak 2008 itu.

Saban bulan Maria memproduksi 100 unit produk dari kain perca. Soal harga, seperti satu set bed cover, dia lepas di harga Rp 1 juta sampai Rp 2 juta. Sedangkan untuk produk tas kain, Maria menjual mulai Rp 100.000 sampai Rp 200.000 per potong. Dari jualan produk dari kain perca itu, Maria mampu menghasilkan omzet sebesar Rp 120 juta per bulan.

 

Sumber dikutip dari : http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1320818173/82260/Eh-ternyata-si-perca-bisa-menghasilkan-duit-jutaan-rupiah-

grosir baju anak branded

grosir baju anak branded

Berburu Aksesori Unik di Inacraft

inacraft01 Berburu Aksesori Unik di InacraftKOMPAS.com – Jakarta International Handicraft Trade Fair (Inacraft) ke-13 berlangsung 20-24 April 2011 di Balai Sidang Jakarta Conventional Center (JCC). Tak hanya produk kerajinan seperti suvenir yang memanjakan mata dengan desain uniknya. Produk fashion dan aksesori juga tak kalah unik dan menarik. Anda bisa menambah koleksi sepatu, syal, cincin atau kalung unik dengan desain menarik yang khas dari perajin lokal.

Produk kain perca dan rajutan dari Wien’s asal Semarang bisa menjadi pilihan. Tas laptop dari kain perca berwarna cerah semakin cantik dengan aksen pita. Ragam pilihan sandal rajut untuk perempuan juga menarik perhatian pengunjung yang datang. Wien’s juga membuat kerajinan tangan berupa alas kaki rajut untuk pemakaian dalam ruang. Kerajinan tangan rajutan ini dibanderol mulai Rp 50.000 hingga Rp 225.000 untuk sandal perempuan. Sedangkan tas laptop kain perca dibanderol mulai Rp 300.000.

Lain lagi dengan produk batik Zola dari Jakarta. Busana batik yang dirancang dengan ragam model seperti terusan, atasan, hingga syal memberikan kesan stylish. Desain busana batik Zola punya keunikan tersendiri dibandingkan busana lain di area pameran. Busana batik ala Zola memberikan kesan modern dan gaya. Pilihan motif batik juga bervariasi dengan warna bervariasi, mulai gelap hingga warna cerah. Syal batik di Zola juga unik dan khas dengan model bergelombang. Khusus syal batik, Zola memasang harga mulai Rp 125.000 sedangkan terusan batik bervariai di atas Rp 300.000.

inacraft02 Berburu Aksesori Unik di InacraftAksesori unik lainnya di Inacraft juga bisa ditemui di gerai perhiasan. Kalung dan gelang dari kayu, serta perhiasan dari bebatuan yang dipadukan dengan manik, menjadi pilihan belanja lainnya di Inacraft 2011. Khusus perhiasan, rentang harga lebih bervariasi mulai Rp 5000 hingga ratusan ribu rupiah. Kerumitan desain dan penggunaan bahan menentukan nilai produk perhiasan unik buatan tangan para perajin lokal ini.

Jika ingin mencari produk berbeda, singgah saja ke pameran tahunan akbar ini di JCC, Senayan, Jakarta. Ragam produk kerajinan tangan dari Indonesia juga sejumlah negara seperti India atau Iran tersedia di area pameran seluas 24.000 meterpersegi ini.

 

Sumber dikutip dari : http://female.kompas.com/read/2011/04/21/18182279/Berburu.Aksesori.Unik.di.Inacraft

Menghias Gorden Jendela dengan Gambar Lucu dari Kain Perca

 

oleh: Rasantika M. Seta

Gorden-kain-perca Menghias Gorden Jendela dengan Gambar Lucu dari Kain Perca

Menghias Gorden Jendela dengan Gambar Lucu dari Kain Perca

Gorden dapat dibuat lebih indah dengan menambahkan hiasan pada permukaan kainnya. Hiasan dapat dibuat dari kain perca. Aneka motif bisa dibuat di sana.

Seni kerajinan aplikasi adalah seni sulam dengan cara menempatkan potongan-potongan kain perca yang sudah dirancang atau dipola sehingga membentuk gambar unik. Pola gambar kemudian dipasang pada selembar kain dengan cara dijahit, baik dengan tangan maupun dengan mesin, mengikuti seluruh tepi pola gambar.

Awalnya seni kerajinan aplikasi dilakukan un­tuk me­nambal bagian kain yang rusak de­ngan kain yang ter­sedia dengan tetap memperhatikan ke­indahan. Penempatan dan pemilihan kain sa­ngat diperhatikan. Begitu juga dengan corak dan warnanya. Perpaduan warna kain dan corak yang tepat menghasilkan ragam hias aplikasi yang apik.

Dalam perkembangannya, seni tambal kain perca tak sekadar menambal dengan pola bentuk apa adanya. Corak gambar sengaja didesain dan ditata rapi pada selembar kain. Sama halnya dengan bor­dir dan sulam, seni aplikasi juga tak hanya un­tuk pakaian, tapi juga merambah ke berbagai kebutuhan rumah tangga lain, seperti gorden dan vitrase.

Aplikasi umumnya dipasang pada bahan gorden dan vitrase yang polos. Aplikasi dibuat dari gun­tingan ba­han yang dibentuk sesuai dengan pola hias yang kita inginkan. Pemasangan aplikasi bisa dijahit me­sin atau sulam tangan. Jahitan me­­sin biasanya re­latif lebih rapi dari sulam ta­ngan, se­dang­kan hasil akhir sulam tangan lebih unik dan artistik. (iDEA/Aksentuasi Tirai)

 

Sumber dikutip dari : http://properti.kompas.com/read/2010/05/03/18281720/Menghias.Gorden.Jendela.dengan.Gambar.Lucu.dari.Kain.Perca

Kerajinan Kain Perca : Lebih Mahal Karena Handmade

Ema Nur Arifah – detikBandung

kain-perca-insert Kerajinan Kain Perca : Lebih Mahal Karena HandmadeBandung – Sebuah prestasi ditorehkan Cordina (43) saat mengikuti festival quilt tingkat dunia di Tokyo beberapa tahun lalu. Quiltmania mendapat penghargaan sebagai produk quilt atau kain perca dengan kualitas terbaik mengalahkan negara-negara lainnya yang ikut berkompetisi.

Kerapihan jahitan tangan produk-produk Dina menjadi salah satu faktor yang membuat Dina mengalahkan negara pesaing termasuk India yang sudah memproduksi kerajinan kain perca secara massal.

Kualitas produk kain perca, menurut Dina memang dilihat dari proses pembuatannya yaitu handmade. Makin sedikit melibatkan mesin dalam proses produksinya maka produk tersebut makin berkualitas dan makin dicari. Otomatis harganya pun jauh lebih mahal.

Menurut Dina, produknya 80 persen handmade. Kalaupun harus menggunakan mesin, hanya digunakan untuk mempermudah dalam menyambung kain-kain panjang.

“Selain karena nilai seninya yang tinggi, jahitan tangan juga lebih kuat daripada jahitan mesin jahit,” tutur Dina.

Jahitan mesin jahit, jika putus satu maka akan berpengaruh pada benang lainnya sedangkan jahitan tangan tidak. Karena dalam menjahit ada titik-titik tertentu yang tidak tersambung dengan benang lainnya.

Ketelitian dan kesabaran sangat diperlukan karena tidak mudah untuk menyambungkan kain-kain berukuran kecil dengan jahitan tangan. Tak heran jika pengerjaannya pun membutuhkan waktu yang cukup lama. Jika dikerjakan oleh enam orang pun, satu bed cover bisa diselesaikan dalam waktu satu bulan.

“Tapi kalau sudah menekuni perkerjaan ini maka akan cinta,” ujar Dina.

Setiap bulannya Dina bisa memproduksi 50-100 buah bed cover. Sedangkan untuk produk kecil bisa sampai 500 buah.

Paling mahal Dina pernah menjual produknya sampai RP 6 juta. Sedangkan paling murah satu bed cover untuk ukuran single saja kini harganya Rp 800 ribu.

 

 

Manfaatkan Peluang dengan Kain Perca
Fotografer – Ema Nur Arifah
Bagi sebagian besar orang, kain perca mungkin dipandang sebelah mata. Tapi jika bisa memanfaatkan peluang dan sentuhan seni, kerajinan kain perca atau tekhnik sambung kain ini memiliki pasar yang menjanjikan.

kainperca01-225x300 Kerajinan Kain Perca : Lebih Mahal Karena Handmadekainperca02-300x202 Kerajinan Kain Perca : Lebih Mahal Karena Handmadekainperca03-225x300 Kerajinan Kain Perca : Lebih Mahal Karena Handmade

Sumber dikutip dari : http://bandung.detik.com/

Kerajinan Kain Perca : Terus Bertahan Meski Ngos-ngosan

kain-perca-insert Kerajinan Kain Perca : Terus Bertahan Meski Ngos-ngosanEma Nur Arifah – detikBandung

Bandung – Ekonomi Indonesia yang gonjang-ganjing berimbas pada industri makro maupun mikro. Cordina (43) yang merintis Quiltmania sejak 17 tahun yang lalu berjuang untuk terus bertahan meski dalam keadaan terjepit.

“Kita berusaha bertahan meski ngos-ngosan,” ujar istri dari Dowal Simanungkalit (44) ini.

Diakui Dina, dari sisi kuantitas, produktivitas tetap stabil namun biaya operasioal yang harus ditanggung membengkak. Bahkan ada bahan baku yang naiknya sampai 50 persen.

Hal ini disebabkan produk kain dari dua perusahaan yang menjadi langganannya tiba-tiba menghilang dari peredaran.  Dina pun terpaksa menggunakan kain impor sejak empat tahun yang lalu.

Harga kain impor yang lebih mahal membuat Dina harus mengeluarkan ongkos produksi yang lebih banyak. Walaupun secara kualitas kain impor lebih baik dari kain lokal. “Meskipun kita menaikan harga tapi tidak sebesar naiknya biaya operasional,” ujar lulusan Fakultas Hukum Unpad ini.

Diakui Dina dia membutuhkan modal untuk membantu usahanya tetap berjalan lancar. Namun sampai saat ini Dina enggan untuk meminjam pada bank karena ribetnya birokrasi yang harus dilalui. Ketidakpercayaannya pada pemerintah pun membuat dia enggan meminta bantuan dana.

“Sampai saat ini kita masih menggunakan biaya sendiri,” ujar Dina.

Harapan Dina, dirinya bisa berbagi ilmu tentang kerajinan kain perca kepada masyarakat. Mengingat pasar produk kain perca yang menjanjikan menurut Dina usaha ini bisa menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak.

Melalui Quiltmania, dia ingin memberdayakan masyarakat khususnya masyarakat sekitar tempat workshopnya di Komplek Cipageran Asri.

“Saya ingin memperlihatkan pada pemerintah kalau kita punya potensi,” ujar Dina yang juga menjadi pengajar di Kriya Tekstil ITB ini.
(ema/ern)

 

Sumber dikutip dari : http://bandung.detik.com/read/2009/04/20/104623/1118039/681/terus-bertahan-meski-ngos-ngosan

Kain Perca yang Melanglang Buana

Ema Nur Arifah – detikBandung

kain-perca-insert Kain Perca yang Melanglang BuanaBandung – Bagi sebagian besar orang kain perca mungkin dipandang sebelah mata. Tapi jika bisa memanfaatkan peluang dan sentuhan seni baik yang baik, kerajinan kain perca atau tekhnik sambung kain (pacthwork) ini memiliki pasar yang menjanjikan. Bahkan, perajin kain perca Cordina (43) bisa membawa karyanya terbang ke Korea.

Bersama suaminya Dowal Simanungkalit, Cordina atau Dina merintis usaha kain perca 17 tahun yang lalu. Menurut Dina, kerajinan kain perca ini memang memiliki pasar yang cukup luas. Meskipun dulu dia berkarya di sebuah gang kecil di Sarijadi, karya Dina sudah dicari oleh orang asing.

“Dulu meski di gang kecil di Sarijadi orang asing sampai mencari,” tutur perempuan kelahiran Palembang ini.

Meskipun besar di keluarga yang erat dengan usaha jahit menjahit, Dina memaparkan awal merintis usaha kerajinan kain perca ini terjadi secara kebetulan. Saat itu dia bertemu dengan seorang penjahit dan mendapatkan kecocokan hingga akhirnya memutuskan untuk membuat kerajinan kain perca.

Produk yang dibuat Dina dari kain-kain perca tersebut berupa satu set perlengkapan tidur seperti bed cover, selimut, bantal dan lain-lain.

Kerajinan kain perca khususnya di luar negeri memang bukanlah barang baru. Untuk negara-negara seperti Eropa atau Amerika, kerajinan kain perca ini dinilai cukup tinggi. Proses pengerjaannya yang lebih lama dari pengerjaan tekstil biasa, menjadi daya tarik yang kuat.

Maka bukan isapan jempol ketika Dina menyatakan kalau pasar untuk kerajinan kain perca ini sangat luas. Dalam memasarkan pun bagi Dina bukanlah hal yang sulit.

Sebelum membuka toko di kawasan Kemang, Jakarta, pesanan demi pesanan datang walaupun masih sebatas pelanggan dari kalangan ekonomi menengah ke atas. Bahkan saat Dina beberapa kali melakukan pameran di luar negeri, karya-karyanya pasti laku keras.

“Pelanggan saya dulu ada dari orang Kanada,” tutur Dina.

Tahun 1997 Dina menutup tokonya karena kewalahan produksi. Tahun 2006, tempat produksi pindah ke Komplek Cipageran Asri, Cimahi. Di sana Dina membentuk kelompok Quiltmania yang bisa diartikan maniak kerajinan kain perca. Dari semula bekerja dengan tiga karyawan, Dina sekarang sudah memperkerjakan 15 karyawan tetap dan sekitar 300 tenaga lepas.

Tapi sayangnya Dina belum menggunakan label Quiltmania untuk produk kain perca-nya. Dina masih sebatas memproduksi untuk negara lain yang nantinya menggunakan label negara tersebut. Dina pernah bekerjasama dengan Taiwan dan sejak tujuh tahun lalu beralih mengekspor produknya ke Korea.

Bukannya tidak ingin membuat label sendiri dan melepaskan dari ikatan kerjasama dengan negara lain. Tapi diakui Dina dibutuhkan modal yang tidak sedikit agar usahanya tetap bertahan. Karena Dina pun harus tetap memikirkan keberlangsungan hidup para pekerjanya.
(ema/ahy)

 

Sumber dikutip dari : http://bandung.detik.com/read/2009/04/20/084820/1117949/681/kain-perca-yang-melanglang-buana

Nasi’in & Harianto Jadi Bos Keset Setelah Gemes Lihat Limbah

Irawulan – detikSurabaya

Pasuruan – Siapa sangka limbah bisa mendatangkan rupiah. Nasi’in dan Harianto, warga Desa Karang Rejo Kecamatan Purwosari Pasuruan sudah membuktikannya. Dari limbah pabrik konveksi, keduanya kini menjadi bos keset kain perca. Produknya kini membanjiri berbagai kota di luar Jawa. Ide keduanya berawal dari rasa ‘gemes’ melihat tumpukan kain bekas di dekat pabrik yang tidak jauh dari rumah mereka. “Kita langsung datang ke pabrik minta kain bekas tersebut. Kebetulan kita bisa menenun kain. Jadi kloplah,” ungkap Nasi’in kepada wartawan di rumahnya, Senin (21/5/2007). Harga kain perca sisa konveksi relatif mudah didapat, dan harganya pun murah. Bentuk dan motif produksi pemuda desa ini cukup variatif, dari yang bulat, oval, hingga model ketupat juga ada. Nasi’in juga bisa membuktikan usaha yang dirintisnya bisa membuka lapangan kerja bagi warga sekitarnya. Untuk setiap pembuatan satu keset, seorang pekerja mendapat uang jasa Rp 200. “Seminggu sekali setiap pekerja bisa buat keset sampai 75 keset,” jelas Harianto yang mendampingi Nasi’in. Berkat keuletannya itu, keduanya sekarang sudang bisa menikmati hasilnya. Selama 11 tahun bergumul dengan keset, keduanya bercita-cita untuk naik haji. “Mudah-mudah secepatnya saya bisa berhaji bersama keluarga,” kata Nasi’in diamini Harianto. (gik/asy) (gik/asy)

Sumber dikutip dari  : http://surabaya.detik.com/read/2007/05/21/104346/782705/475/nasi-in-harianto-jadi-bos-keset-setelah-gemes-lihat-limbah

Busana Berbahan Plastik Ramaikan Kediri Fashion Parade

Samsul Hadi – detikSurabaya

 

kediri-fashion-festival Busana Berbahan Plastik Ramaikan Kediri Fashion ParadeKediri – Tak mau kalah dengan Jember Fashion Carnaval, Kota Kediri mengelar hal yang samal. Menyemarakkan hari jadinya yang ke 1131, Kediri Fashion Parade (KFP) digelar, dengan sejumlah peserta menampilkan busana berbahan dasar limbah plastik dan kertas koran. Meski di jalanan tak mengurangi kemewahan dan kemegahannya.

KFP 2010 dilaksanakan dengan strat Stadion Brawijaya, dan peserta diwajibkan mempertontonkan hasil karyanya menyusuri jalanan Kota Kediri sepanjang hampir 3 kilometer, hingga finish di halaman balai kota. Dalam pelaksanaan yang baru pertama kalinya itu, 629 peserta perseorangan dan kelompok hadir dengan sejumlah rancangan.

Jeris, salah seorang peserta asal Batik Solo Karnaval mengatakan, KFP 2010 diikutinya berdasarkan undangan panitia. Dia menampilkan kreasi busana batik kontemporer, dengan bahan dasar limbas plastik pembungkus, pecahan kaca dan kain perca.

Untuk rancangan tersebut dia harus mengeluarkan kocek pribadi sebesar Rp 500 ribu, dengan pengerjaan dilakukan selama hampir 2 bulan.

“Jadinya ya seperti ini. Beratnya ada sekitar 3,5 kilo dan tentunya lumayan berat,” kata Jeris kepada detiksurabaya.com disela KFP 2010, Sabtu (17/7/2010).

Selain Jeris, sejumlah peserta dari dalam kota juga menempilkan suguhan yang tak kalah menarik. Salah satunya rombongan dari MAN Negeri III Kediri mengusung busana dengan aksesoris kerupuk padang pasir dan limbah pembungkus buah apel, yang dipadukan dengan busana pengantin berbahan dasar kertas koran.

“Yang punya ide murni anak-anak, setelah melihat potensi yang ada di sekitarnya,” ujar Umi, salah seorang guru pembina di MAN III Kediri.

Kegiatan KFP 2010 ini sendiri dilaksanakan dengan konsep yang diakui meniru Jember Fashion Carnaval, dengan tujuan menggali pontensi masyarakat dalam dunia modeling.

“Jujur konsepnya memang menjiplak yang di Jember itu.  Kami ingin dengan kegiatan seperti ini, potensi masyarakat khususnya anak muda di bidang modeling bisa terserap dan tersalurkan,” tutur Kabag Humas Pemkot Kediri Nur Muhyar.

KFP 2010 juga diakui Nur, diharapkan bisa mendongkrak kunjungan wisatawan ke Kota Kediri, yang selama ini diakui masih sangat minim.

“Sekali lagi, kalau Jember bisa melakukan dan menjadikannya event tahunan yang diminati, kami juga ingin dan yakin bisa melakukannya,” tandasnya.

(wln/wln)

 

Sumber dikutip dari : http://surabaya.detik.com/read/2010/07/17/184748/1401335/475/busana-berbahan-plastik-ramaikan-kediri-fashion-parade

Tips Dekorasi Rumah: Padu Padan Motif Furniture Dengan Kain Perca

kain-perca-dekorasi-224x300 Tips Dekorasi Rumah: Padu Padan Motif Furniture Dengan Kain PercaJakarta – Tak hanya busana saja yang bisa tabrak motif. Anda juga bisa mendekor rumah dengan aneka motif agar nampak lebih ceria.

Namun tak semua motif bisa dicampur untuk menghiasi rumah. Salah memadupadankan, rumah Anda malah tampak seperti gudang kain perca. Berikut beberapa tips yang bisa digunakan untuk menghias rumah dengan aneka motif.

1. Motif patchwork (campuran beberapa motif yang tergabung dalam potongan-potongan kain) bisa menjadi pilihan yang unik untuk menghias rumah. Korden, sprei atau taplak motif patchwork akan membuat suasana rumah makin semarak dan bergaya quirky.

2. Jika belum berani mencampur aneka motif yang benar-benar berbeda, Anda bisa memadukan motif yang sama, namun dengan ukuran yang berbeda. Misalnya motif kotak besar dan kecil. Padu padan warna yang senada juga bisa Anda lakukan. Misalnya pilih motif polkadot besar berwarna biru muda, lalu padukan dengan motif polkadot kecil berwarna biru tua.

3.Padanan sentuhan modern dan klasik juga bisa dilakukan. Misalnya peralatan makan dengan motif floral yang klasik dipadukan dengan serbet makan motif garis yang modern.

Korden motif daun Anda akan tampak lebih cantik dengan bantal duduk (cushion) bermotif geometrik yang modern.

Tips: Jika ingin memadukan motif klasik dan modern, sebaiknya pilih warna yang sama agar tak terlalu terlihat bertabrakan.

4. Anda juga bisa memilih motif sesuai dengan tema yang sudah di tentukan.
Misalnya menghias rumah dengan wallpaper bergambar laut. Lalu memadukannya dengan cushion bergambar kerang-kerang yang cantik.

(kee/fer)

 

Sumber dikutip dari : http://www.wolipop.com/read/2010/05/06/113420/1352227/858/tips-dekorasi-rumah-padu-padan-motif-furniture

Libatkan Warga Sekitar untuk Berkreasi

Avitia Nurmatari – detikBandung

kain-perca-boneka Libatkan Warga Sekitar untuk BerkreasiBandung – Usaha pingkan membuat karya dari kain perca tidak semua terlahir dari kedua tangannya. Ia juga mengajak serta warga sekitar untuk berkarya. Ada sekitar 40 orang yang terlibat di Favorita Perca, namun sebagian dari mereka pekerja sambilan. Untuk pekerja tetap hanya ada 20 orang.

“Mereka kan kebayakan petani. Kalau panen mereka ya di sawah, kalau tidak mereka baru ke sini lagi,” terang Pingkan saat berbincang dengan detikbandung.

Pingkan mengaku kesulitan untuk memasarkan produknya karena tidak punya keahlian pemasaran. “Jujur saya bisa bikin, tapi enggak bisa jual, jadi paling teman-teman saya yang bawa. Kalau main ke rumah, mereka bawa. Jadi barang saya ini tahunya dari mulut ke mulut, atau pameran,” terangnya.

Keahlian Pingkan dalam membuat karyanya ternyata tidak belajar dari kursus, ia belajar dari buku. “Belajar dari buku, saya suka sekali membaca,” ungkapnya. Untuk membuat produk dari kain perca ini, tak hanya keterampilan, tapi dibutuhkan kesabaran.

“Saya pikir semua orang bisa membuat karya seperti ini. Tapi ternyata tidak semua orang bisa sabar,” katanya sambil tertawa.
(avi/ern)

 

Sumber dikutip dari : http://bandung.detik.com/read/2010/06/29/113953/1389088/669/libatkan-warga-sekitar-untuk-berkreasi

Bersatunya 3 Budaya di Central Market, Malaysia

bati-perca-233x300 Bersatunya 3 Budaya di Central Market, MalaysiaJakarta – Pasar seni yang bernama Central Market ini cukup unik. Central Market adalah tempat bertemunya 3 kebudayaan yaitu India, China dan Malaysia.

Central market dibagi dalam 3 kategori budaya. Yang pertama, begitu kami masuk area ini, kami melihat barang seni dari kebudayaan India. Ada hena, artwork dari perak, scarf dengan warna-warna ceria, lukisan The Guru, bangles yang sangat mencolok dan berbagai perhiasan yang sangat India sekali.

Area seni yang kedua, didominasi oleh kebudayaan China. Toko-toko yang menjual barang-barang ini biasanya memajang banyak lampion, gelang-gelang yang terbuat dari giok atau mutiara, patung Budha maupun baju-baju Cheong Sam.

Area seni ketiga dan yang terluas adalah toko-toko yang menjual barang-barang seni yang menganut budaya Melayu. Barang-barang tidak jauh berbeda dengan barang Indonesia. Ada batik, pacthwork (fashion item dari kain perca), sepatu kanvas lukis, summer dress ala Bali, artwork berupa wayang orang, tas manik-manik, dan ada juga pusat kerajinan tangan yang mirip seperti kios oleh-oleh di Yogyakarta.

Harga di Central Market bisa dibilang cukup mahal. Untuk scarf berkisar RM 5 sampai RM 20 atau sekitar Rp 15 ribu sampai Rp 58 ribu. Sepatu lukis rata-rata RM 60 atau sekitar Rp 172 ribu. Lampion rata-rata dijual seharga RM 38 atau sekitar Rp 109 ribu. Dress batik mulai dari RM 25 sampai RM 150 atau sekitar Rp 72 ribu sampai Rp 429 ribu.

Di Central Market juga banyak pelukis yang menjual hasil karya mereka. Tips dari saya untuk berbelanja di tempat ini adalah, belilah barang yang benar-benar Anda inginkan. Karena harganya susah turun dan barangnya cukup banyak dijumpai di Indonesia.

Untuk sampai ke tempat ini, Anda tinggal naik monorail dari Stasiun Bukit Bintang sampai Hang Tuah. Lalu dilanjutkan dengan bis ke Stasiun Pasar Seni. Pasar ini sangat menarik dikunjungi pada malam hari karena ada beberapa pertunjukan dari musisi lokal Malaysia. Trully art market ya?

(eny/eny)

 

Sumber di kutip dari : http://www.wolipop.com/read/2011/05/19/142243/1642555/1187/bersatunya-3-budaya-di-central-market-malaysia

Racik Sepatu Berawal dari Tumpukan Kain Batik Sisa

Tya Eka Yulianti – detikBandung

 

sepatu-batik-insert Racik Sepatu Berawal dari Tumpukan Kain Batik SisaBandung – Awal mula Agnes Tandia (22) meracik sepatu dari kain batik terbilang unik. Sebelumnya, lulusan Kriya Tekstil angkatan itu senang membuat jaket batik membuat jaket dari kain batik. Dari pembuatan jaket, terdapat sisa-sisa potongan kain batik atau kain perca yang menumpuk.

“Waktu kuliah tingkat II, saya bikin jaket batik. Dari bikin jaket selalu ada sisa perca. Lalu mikir gimana caranya untuk manfaatkan kain perca itu,” kata Agnes saat berbincang dengan detikbandung di gelaran Pesona Batik Nusantara di Pasteur Hyper Point, Jalan Dr Djunjunan, Kota Bandung.

Ia pun akhirnya memilih membuat sepatu dari kain perca batik tersebut dengan merk Kulkith. Nama Kulkith sendiri merupakan plesetan dari kata Cool Kid . “Soalnya sepatu kan salah satu pelengkap fashion yang rutin dibeli juga. Lagian butuh kainnya juga nggak banyak,” tuturnya.

Bahan kain batik yang digunakan untuk sepatu, menurut Agnes bisa jenis apa saja asalkan kainnya tidak tipis. Ia pun mengaku mendapatkan pasokan bahan kain batik di Bandung meski motif yang digunakan adalah motif daerah diluar Bandung.

“Yang penting kainnya tebal dan tidak tipis seperti bahan sutera. Bahannya gampang didapat kok. Saya ngga perlu ke daerahnya langsung karena di Bandung pun supliernya sudah banyak,” tuturnya.

Menurut Agnes, untuk membuat sepatu batik ini tidaklah sulit. Namun yang sulit adalah saat konsumen meminta motif batik tertentu yang belum tentu dapat ditemukan lagi di pasaran. Di Kulkith, Agenes pun mengaku tak menerima pesanan dengan kain batik yang dibawa sendiri.

Kini, pembuatan jaket batik malah berkurang seiring makin diminatinya sepatu batik hasil kreasinya itu. Selain sepatu dan jaket, di Kulkith tersedia tas dan baju batik.
(tya/bbn)

 

Sumber : http://bandung.detik.com/read/2010/12/02/083642/1507234/669/racik-sepatu-berawal-dari-tumpukan-kain-batik-sisa

Saya – Saptuari – Yoris @ Metro TV Feat Sarah Sechan & Ully Herdinansah, 9 Okt 2008 #SuksesHidupDiKampung

http://www.Metro TV Feat Sarah Sechan & Ully Herdinansah, 9 Okt 2008youtube.com/watch?v=4C94V_HGemYhttp://www.youtube.com/watch?v=4C94V_HGemY

Grosir Partai Baju Distro Bandung

Grosir Partai Baju Distro Bandung

Baju Anak Murah Bandung

Baju Anak Murah Bandung

Barokah Stocklot's | Wholesale, Distributor, Supplier, Baju Anak Branded, TerMURAH se Indonesia
Bing SEO Stok Baju page contents